Gus Hery H. Azumi Ziarah dan Bersilaturahmi dengan Ulama di Kediri

Gus Hery H. Azumi Ziarah dan Bersilaturahmi dengan Ulama di Kediri (2026)

KEDIRI – Di sela rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Kediri, Gus Hery Haryanto Azumi melakukan sejumlah agenda ziarah dan silaturahmi kepada para ulama serta tokoh Nahdlatul Ulama.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga tradisi keilmuan, memperkuat sanad perjuangan, sekaligus memohon doa dan nasihat dari para ulama dalam menyongsong masa depan Nahdlatul Ulama memasuki abad kedua.

Salah satu agenda yang dilakukan adalah sowan kepada Gus Fahim selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Dalam pertemuan tersebut, Gus Hery memohon doa restu serta berdiskusi mengenai berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi Nahdlatul Ulama ke depan.

Pertemuan berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai pentingnya menjaga tradisi pesantren, memperkuat kaderisasi, serta mempersiapkan kepemimpinan NU yang mampu menjawab perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang diwariskan para muassis.

Selain bersilaturahmi dengan para kiai, Gus Hery juga melakukan ziarah ke sejumlah maqbarah ulama dan tokoh penting Nahdlatul Ulama yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan organisasi.

Gus Hery H. Azumi Ziarah ke Maqbarah Gus Miek

Ziarah pertama dilakukan ke Maqbarah KH. Hamim Tohari Djazuli atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miek di Kediri. Gus Miek dikenal sebagai ulama kharismatik yang memberikan teladan dalam dakwah, spiritualitas, serta pengabdian kepada umat. Dalam kesempatan tersebut, Gus Hery bersama rombongan memanjatkan doa dan mengenang perjuangan serta keteladanan yang diwariskan Gus Miek kepada generasi penerus.

Gus Hery H. Azumi Ziarah ke Maqbarah KH. Achmad Siddiq

Rangkaian ziarah kemudian dilanjutkan ke Maqbarah KH. Achmad Siddiq, salah satu tokoh penting Nahdlatul Ulama yang pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU. KH. Achmad Siddiq dikenal luas sebagai penggagas dan penjaga Khittah Nahdlatul Ulama 1926 yang hingga kini menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan organisasi.

Bagi Gus Hery, ziarah kepada para ulama bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap mata rantai perjuangan, keilmuan, dan pengabdian yang telah membentuk karakter Nahdlatul Ulama selama lebih dari satu abad.

“NU besar karena dibangun oleh para ulama yang mewariskan ilmu, keteladanan, dan pengabdian. Karena itu, menjaga hubungan dengan para masyayikh, meneladani perjuangan mereka, dan melanjutkan cita-cita yang telah mereka bangun menjadi bagian penting dari tanggung jawab generasi penerus,” ungkap Gus Hery.

Melalui rangkaian sowan, silaturahmi, dan ziarah ini, Gus Hery menegaskan pentingnya menyambungkan tradisi dengan masa depan. Menurutnya, NU akan tetap kuat apabila mampu menjaga akar tradisi dan sanad keilmuan, sekaligus menghadirkan gagasan-gagasan baru yang relevan dengan tantangan zaman.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Gus Hery untuk terus membangun komunikasi dengan para ulama, kiai pesantren, tokoh NU, serta berbagai elemen Nahdliyin dalam rangka memperkuat persatuan dan menyiapkan langkah-langkah strategis menyongsong abad kedua Nahdlatul Ulama.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *