Setiap gagasan kepemimpinan perlu dibaca bersama proses yang membentuknya. Dalam kasus Gus Hery Haryanto Azumi, proses itu terlihat dari jejak kaderisasi Gus Hery, perjalanan intelektual, dan pengaruh pemikiran Gus Dur yang ia sebut membentuk karakter pikirannya hingga hari ini.
Gus Hery bukan figur yang muncul tiba-tiba dalam ruang NU. Ia memiliki jejak panjang dalam organisasi kader, termasuk di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII. NU Online mencatat Hery Haryanto Azumi pernah terpilih sebagai Ketua Umum PB PMII periode 2005-2007. Rekam jejak ini memberi konteks penting bagi gagasan-gagasannya tentang NU abad kedua.
Kaderisasi sebagai Proses Pembentukan
Dalam paparannya, Gus Hery bercerita tentang masa awalnya di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Ia menyebut proses pertemuan dengan para senior yang mengarahkan pilihan organisasinya. Cerita ini memperlihatkan bahwa kaderisasi tidak hanya membentuk posisi organisasi, tetapi juga membentuk orientasi perjuangan.
Bagi seorang kader NU, proses seperti ini penting. Ia menjadi ruang belajar untuk memahami gerakan, membaca masyarakat, mengelola perbedaan, dan menyerap nilai pengabdian. Dari sinilah gagasan kepemimpinan Gus Hery dapat dibaca sebagai kelanjutan dari proses panjang, bukan sekadar narasi elektoral.
Pengaruh Pemikiran Gus Dur
Gus Hery beberapa kali menyebut Gus Dur sebagai figur yang sangat berpengaruh dalam perjalanan intelektualnya. Ia membaca buku-buku Gus Dur, menelusuri jejak pemikirannya, dan melihat Gus Dur sebagai seorang tradisionalis yang mampu menemukan kembali nilai-nilai yang dibutuhkan NU untuk maju.
Pengaruh Gus Dur membuat Gus Hery memandang NU sebagai organisasi yang harus terbuka pada dunia luar. Tradisi pesantren tidak ditempatkan sebagai tembok yang menutup, melainkan sebagai akar yang memberi kekuatan untuk berdialog dengan perubahan zaman.
Tradisi yang Tidak Menutup Diri
Salah satu hal penting dari cara Gus Hery membaca Gus Dur adalah kemampuan menggabungkan tradisi dengan keterbukaan. Gus Dur lahir dari tradisi pesantren, tetapi pemikirannya bergerak melintasi batas: demokrasi, kemanusiaan, kebudayaan, dan peradaban.
Gus Hery mencoba membawa semangat itu ke dalam gagasan NU abad kedua. Baginya, NU tidak boleh hanya menjaga apa yang sudah ada. NU perlu mencari nilai-nilai baru yang dapat menambah kekuatan organisasi, memperluas manfaat, dan meningkatkan kontribusi bagi umat manusia.
Dari Kaderisasi Menuju Visi Abad Kedua
Jejak kaderisasi Gus Hery penting karena dari situlah ia belajar membaca NU sebagai gerakan. PMII sebagai organisasi kader memberi pengalaman dalam mengelola ide, jaringan, dan kepemimpinan. Pengalaman ini kemudian bertemu dengan inspirasi pemikiran Gus Dur dan kebutuhan NU memasuki abad kedua.
Dalam konteks calon Ketua Umum PBNU, hal ini menjadi modal penting. NU membutuhkan pemimpin yang bukan hanya memahami struktur, tetapi juga memahami proses pembentukan kader, dinamika generasi muda, dan kebutuhan pembaruan organisasi.
Kesiapan yang Lahir dari Proses
Gus Hery menawarkan gagasan bukan dari ruang kosong. Ia berbicara dari pengalaman kaderisasi, pergulatan pemikiran, dan keterhubungan dengan tradisi NU. Kesiapan seperti ini penting karena NU adalah organisasi besar yang membutuhkan pemimpin dengan akar, jejaring, dan visi.
Dari PMII ke gagasan NU abad kedua, perjalanan Gus Hery memperlihatkan satu benang merah: kaderisasi harus melahirkan kepemimpinan yang berpikir jauh, terbuka, dan tetap berkhidmat pada nilai-nilai NU.

Leave a Reply