Gus Hery Haryanto Azumi menempatkan NU dan Krisis Peradaban Dunia dalam percakapan yang lebih luas dari sekadar politik nasional atau urusan internal organisasi. Menurutnya, NU perlu terlibat dalam berbagai fenomena global karena dunia hari ini sedang menghadapi krisis peradaban dan krisis geopolitik.
Pernyataan ini memperlihatkan cara Gus Hery membaca NU sebagai kekuatan etis yang dapat berkontribusi melampaui batas negara. NU tidak hanya dibayangkan sebagai organisasi sosial-keagamaan di Indonesia, tetapi sebagai gerakan yang punya potensi memberi jawaban atas problem kemanusiaan dunia.
Dari Isu Nasional ke Isu Kemanusiaan Global
Gus Hery menyebut bahwa NU tidak cukup hanya bicara problem politik nasional atau pendampingan masyarakat. Perkembangan dunia menuntut NU ikut memikirkan krisis yang terjadi di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah, Asia, Eropa Timur, hingga kawasan lain yang dilanda ketegangan.
Cara pandang ini penting karena banyak persoalan dunia hari ini tidak hanya bersifat politik, tetapi juga etis. Konflik, ketidakadilan, kerusakan sosial, dan krisis kemanusiaan membutuhkan jawaban moral yang tidak berhenti pada kepentingan kekuasaan.
Islam Rahmatan lil Alamin sebagai Basis Etika
Dalam paparannya, Gus Hery mengaitkan peran NU dengan Islam rahmatan lil alamin. Baginya, NU tidak hanya berpikir untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia. Islam yang dibawa NU perlu diterjemahkan menjadi rahmat, panduan, dan etika sosial yang dapat diterima dalam kehidupan bersama.
Inilah kekuatan khas NU: tradisi keagamaan yang berakar pada pesantren, tetapi memiliki orientasi kemanusiaan yang luas. Dengan modal ini, NU dapat ikut menawarkan pendekatan yang damai, moderat, dan berorientasi kemaslahatan.
Mengapa NU Perlu Hadir di Level Dunia
Menurut Gus Hery, dunia memerlukan jawaban NU atas problem etis keduniaan yang harus diselesaikan secara agama. Pernyataan ini tidak berarti NU harus menggantikan aktor politik global, tetapi NU dapat menghadirkan perspektif moral dan keagamaan yang mendorong perdamaian, dialog, dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Peran seperti ini membutuhkan organisasi yang berani membuka diri. NU perlu membangun kapasitas diplomasi peradaban, memperkuat jejaring ulama internasional, dan menyiapkan kader yang mampu berbicara dalam bahasa global.
Kesiapan Kepemimpinan untuk Peran Global
Gagasan peran global NU memperlihatkan kebutuhan akan kepemimpinan yang memiliki horizon luas. Pemimpin NU ke depan tidak hanya dituntut mampu mengelola organisasi, tetapi juga membaca peta dunia, membangun jejaring, dan mengartikulasikan nilai NU dalam forum internasional.
Sebagai calon Ketua Umum PBNU, Gus Hery menampilkan dirinya sebagai figur yang melihat NU dari perspektif peradaban. Ia tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana NU bertahan, tetapi bagaimana NU memberi arah bagi masa depan manusia.
NU sebagai Alternatif Jawaban Dunia
Krisis dunia hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan ekonomi dan politik. Dunia membutuhkan etika. Di titik inilah Gus Hery melihat NU memiliki peluang besar untuk hadir sebagai alternatif jawaban, terutama melalui nilai Islam rahmatan lil alamin yang menekankan kemaslahatan bagi semua.
Dengan visi global ini, Gus Hery mendorong NU untuk tidak terjebak mengurus dirinya sendiri. NU perlu berbicara tentang bangsa, manusia, dan peradaban sebagai bagian dari tanggung jawab sejarahnya.

Leave a Reply