Dalam salah satu paparannya, Gus Hery Haryanto Azumi menyampaikan gagasan yang menjadi pintu masuk penting untuk membaca arah kepemimpinannya: NU tidak cukup hanya besar secara jumlah. Menurutnya, Nahdlatul Ulama harus besar dalam gagasan, pengabdian, dan kebermanfaatan bagi masyarakat, bangsa, negara, bahkan umat manusia.
Pernyataan ini memperlihatkan cara Gus Hery memandang NU bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan dengan basis massa yang luas, tetapi sebagai kekuatan sosial dan moral yang memiliki tanggung jawab historis. NU, dalam pandangannya, perlu bergerak lebih jauh dari posisi yang nyaman menuju peran yang lebih menentukan dalam kehidupan bangsa.
NU Tidak Cukup Menjadi Faktor Pendukung
Gus Hery mengaitkan gagasan tersebut dengan ingatannya terhadap KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia mengingat pesan Gus Dur bahwa NU jangan hanya berhenti sebagai faktor pendukung bagi pemerintah atau kekuasaan, tetapi harus mampu menjadi faktor penentu. Pesan ini, menurut Gus Hery, terus hidup dalam pikirannya dan membentuk cara pandangnya tentang masa depan NU.
Dalam konteks hari ini, gagasan “faktor penentu” dapat dibaca sebagai ajakan agar NU tidak hanya hadir ketika diminta memberikan restu, legitimasi, atau dorongan moral. NU perlu memiliki kapasitas untuk ikut merumuskan arah, membaca perubahan, dan memberi jawaban atas persoalan bangsa.
Dari Jumlah Besar Menuju Gagasan Besar
Sebagai organisasi yang lahir dari tradisi pesantren dan jaringan ulama, NU memiliki modal sosial yang kuat. Namun bagi Gus Hery, modal jumlah saja belum cukup. Besarnya NU perlu diterjemahkan menjadi besarnya kontribusi: dalam pendidikan, kebudayaan, ekonomi umat, etika publik, dan peran kemanusiaan.
Di sinilah terlihat orientasi kepemimpinan Gus Hery. Ia tidak meletakkan NU semata-mata sebagai kekuatan massa, tetapi sebagai kekuatan gagasan. NU harus hadir bukan hanya karena jumlah warganya besar, melainkan karena pikirannya relevan, gerakannya bermanfaat, dan kepemimpinannya mampu menjawab kebutuhan zaman.
Gerakan Kebangkitan Baru NU
Dalam paparannya, Gus Hery menyebut Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama atau GKBNU sebagai ikhtiar untuk mendorong transformasi tersebut. GKBNU diposisikan sebagai gerakan yang mengajak NU berpindah dari kemapanan menuju wilayah baru yang lebih progresif.
Kata “progresif” dalam gagasan ini tidak berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, Gus Hery menempatkan tradisi sebagai akar, sambil mendorong NU agar memiliki keberanian memasuki ruang-ruang baru: ilmu pengetahuan, teknologi, diplomasi peradaban, dan kepemimpinan sosial global.
Kesiapan Gus Hery sebagai Calon Ketua Umum PBNU
Gagasan ini penting dalam membaca kesiapan Gus Hery sebagai figur calon Ketua Umum PBNU. Ia tidak hanya berbicara tentang konsolidasi internal organisasi, tetapi juga tentang bagaimana NU dapat mengambil peran yang lebih strategis dalam perjalanan bangsa dan dunia.
Kesiapan kepemimpinan, dalam kerangka Gus Hery, bukan hanya soal kemampuan mengelola struktur. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca masa depan, menyambungkan potensi organisasi, dan mengubah kebesaran NU menjadi kebermanfaatan yang nyata.
NU sebagai Penentu Arah Peradaban
Gus Hery menempatkan NU dalam horizon yang luas: masyarakat, bangsa, negara, dan umat manusia. Dengan demikian, gagasan “NU sebagai faktor penentu” tidak berhenti pada kontestasi internal organisasi. Gagasan ini adalah visi tentang NU yang sanggup memberi arah pada kehidupan bersama.
Jika NU ingin memasuki abad kedua dengan lebih kuat, maka besarnya jumlah harus disertai besarnya gagasan. Di titik inilah Gus Hery menawarkan arah: NU yang berakar pada tradisi, bergerak dengan pengabdian, dan hadir sebagai kekuatan penentu masa depan bangsa.

Leave a Reply