Gus Hery Haryanto Azumi mengangkat kembali salah satu prinsip pembaruan NU yang penting dalam tradisi: al-muhafadhah ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah. Secara sederhana, prinsip ini berarti menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Bagi Gus Hery, prinsip tersebut bukan sekadar ungkapan klasik. Ia adalah cara berpikir yang sangat relevan untuk membawa NU memasuki masa depan. NU perlu tetap berakar pada tradisi, tetapi juga harus kreatif dalam menciptakan nilai baru yang lebih progresif dan maslahat.
Daftar Isi
Tradisi sebagai Akar, Bukan Beban
NU tumbuh dari tradisi pesantren, keilmuan ulama, amaliyah keagamaan, dan kebudayaan masyarakat. Tradisi ini menjadi akar yang membuat NU memiliki daya tahan sosial yang kuat. Karena itu, pembaruan NU tidak dapat dilakukan dengan cara mencabut akar tersebut.
Gus Hery menekankan pentingnya menjaga tradisi yang baik. Tradisi yang menjadi sumber nilai, etika, dan kebijaksanaan harus terus dirawat. Namun, ia juga mengingatkan bahwa hal-hal yang tidak baik perlu ditinggalkan.
Kreativitas dalam Menciptakan Nilai Baru
Bagian kedua dari prinsip tersebut adalah mengambil atau menciptakan hal baru yang lebih baik. Gus Hery menyebut adanya kreativitas dan konsistensi dalam pengertian al-ashlah. Artinya, NU tidak cukup hanya melestarikan. NU juga perlu mencipta.
Kreativitas ini dapat hadir dalam berbagai bidang: pendidikan, kaderisasi, teknologi, ekonomi, budaya, dan kontribusi sosial. NU perlu menciptakan format baru agar nilai-nilai lama yang baik tetap relevan dalam konteks zaman yang terus berubah.
Prinsip Pembaruan NU yang Tidak Kehilangan Identitas
Salah satu tantangan organisasi besar adalah bagaimana berubah tanpa kehilangan jati diri. Gagasan Gus Hery menawarkan jawaban: perubahan harus berangkat dari akar. Dengan menjaga tradisi yang baik, NU memiliki fondasi. Dengan mengambil yang baru dan lebih maslahat, NU memiliki masa depan.
Inilah jalan pembaruan NU yang tidak reaktif dan tidak sekadar mengikuti arus. NU dapat menjadi organisasi progresif tanpa meninggalkan adab, sanad keilmuan, dan nilai-nilai pesantren.
Relevansi untuk NU Abad Kedua
Memasuki abad kedua, NU berhadapan dengan perubahan yang jauh lebih kompleks. Dunia bergerak cepat melalui teknologi, dinamika sosial, perubahan ekonomi, dan tantangan pendidikan. Jika NU hanya menjaga tradisi tanpa kreativitas, NU bisa tertinggal. Namun jika NU hanya mengejar hal baru tanpa akar, NU bisa kehilangan arah.
Karena itu, prinsip menjaga tradisi dan menciptakan nilai baru menjadi sangat penting dalam membaca kesiapan Gus Hery sebagai calon pemimpin NU. Ia tidak menempatkan tradisi dan modernitas sebagai dua kutub yang bertentangan, tetapi sebagai dua kekuatan yang perlu disambungkan.
Dengan kerangka ini, Gus Hery menawarkan pembaruan NU yang berakar dan bergerak: menjaga yang baik, meninggalkan yang tidak relevan, serta menciptakan kemaslahatan baru untuk bangsa dan masyarakat.

Leave a Reply