Ada 3 Tantangan NU Menurut Gus Hery, yaitu keberanian untuk terbuka, keluar dari zona nyaman, dan menjawab kebutuhan zaman. Gus Hery Haryanto Azumi menyebut tantangan terbesar NU hari ini adalah dirinya sendiri. Pernyataan ini penting karena menggeser fokus dari tantangan eksternal menuju pertanyaan yang lebih mendasar: apakah NU berani terbuka dan keluar dari zona nyaman?
Bagi Gus Hery, dunia bergerak sangat cepat. Dalam situasi seperti itu, banyak orang memilih menutup diri dan menikmati apa yang sudah ada. Risiko yang sama dapat terjadi pada organisasi besar seperti NU jika merasa cukup hanya karena telah dihormati sebagai kekuatan agama dan sosial.
Tantangan 1: Zona Nyaman Organisasi Besar
NU memiliki sejarah panjang, basis sosial yang kuat, dan penghormatan besar dari masyarakat. Semua itu adalah modal penting. Namun, menurut Gus Hery, modal tersebut juga dapat menjadi jebakan jika membuat NU merasa cukup dan berhenti bergerak.
Zona nyaman dapat hadir dalam bentuk kemapanan sebagai tokoh agama, tokoh masyarakat, atau institusi yang dihormati. Ketika penghormatan itu membuat organisasi merasa tidak perlu membuka diri, maka potensi besar NU bisa kehilangan daya transformasinya.
Tantangan 2: Dunia Meminta Jawaban yang Lebih Besar
Gus Hery menegaskan bahwa dunia meminta sesuatu yang lebih dari NU. Bukan hanya pendampingan masyarakat atau respons atas politik nasional, tetapi juga jawaban atas problem etis, kemanusiaan, dan peradaban. NU perlu hadir sebagai penuntun yang lebih luas.
Dalam bahasa Gus Hery, NU harus berpikir sebagai Islam rahmatan lil alamin. Artinya, kontribusi NU tidak hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Cara pandang ini menuntut NU keluar dari batas-batas sempit dan membangun peran yang lebih universal.
Tantangan 3: Terbuka Bukan Berarti Kehilangan Akar
Ajakan Gus Hery agar NU terbuka tidak dapat dipahami sebagai ajakan meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya, keterbukaan menjadi cara agar tradisi NU tetap hidup dan relevan. Tradisi yang kuat tidak takut berdialog dengan dunia baru.
NU memiliki khazanah pesantren, ulama, kitab kuning, dan kultur keagamaan yang mengakar. Modal ini dapat menjadi dasar untuk membaca perubahan, bukan alasan untuk menutup diri. Dengan akar yang kuat, NU dapat berjalan lebih percaya diri memasuki ruang-ruang baru.
Transformasi sebagai Kebutuhan Kepemimpinan
Gagasan keluar dari zona nyaman menunjukkan arah kepemimpinan yang ingin dibawa Gus Hery. Ia melihat transformasi bukan sebagai pilihan tambahan, tetapi sebagai kebutuhan agar NU tidak tertinggal oleh perubahan zaman.
Sebagai calon Ketua Umum PBNU, Gus Hery perlu dibaca melalui gagasan ini. Ia menawarkan keberanian untuk menggerakkan NU dari kemapanan menuju pembaruan yang tetap berakar. Di tengah organisasi besar, keberanian seperti ini membutuhkan visi, komunikasi, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan banyak elemen.
NU yang Terbuka dan Responsif
NU masa depan, dalam bayangan Gus Hery, adalah NU yang terbuka, responsif, dan mampu melihat masa depan dalam horizonnya. Organisasi tidak hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, tetapi juga berbicara tentang bangsa, negara, manusia, dan peradaban.
Dengan keluar dari zona nyaman, NU dapat mengubah kebesarannya menjadi daya gerak. Itulah inti gagasan Gus Hery: NU harus terus bergerak karena dunia membutuhkan kontribusi NU yang lebih besar.

Leave a Reply