Salah satu kekuatan gagasan Gus Hery Haryanto Azumi adalah kemampuannya menempatkan tradisi dan pembaruan dalam satu tarikan napas. Ia tidak mempertentangkan keduanya. Bagi Gus Hery, NU harus menjaga akar intelektual masa lalu, tetapi juga perlu menciptakan kemaslahatan baru.
Cara pandang ini sangat dekat dengan kaidah yang hidup dalam tradisi NU: al-muhafazhah ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah, menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Gus Hery menggunakan semangat ini untuk membaca kebutuhan NU abad kedua.
Daftar Isi
Khazanah Klasik sebagai Akar NU
Dalam paparannya, Gus Hery menyebut NU memiliki korpus atau khazanah klasik yang tebal. Kitab kuning, tradisi pesantren, dan warisan intelektual ulama menjadi pembentuk karakter NU. Ini adalah akar yang tidak boleh diputus.
Akar intelektual ini memberi NU identitas, sanad, dan kedalaman. Dengan tradisi itulah NU mampu merawat cara beragama yang berakar, beradab, dan memiliki kesinambungan dengan ulama masa lalu.
Bahaya Terjebak pada Masa Keemasan
Namun, Gus Hery juga mengingatkan adanya risiko ketika tradisi hanya diperlakukan sebagai nostalgia. NU bisa terjebak pada masa keemasan masa lalu dan kehilangan keberanian untuk menciptakan kemaslahatan baru.
Tradisi yang hidup seharusnya tidak membuat organisasi berhenti. Tradisi justru menjadi sumber energi untuk membaca zaman. Jika NU hanya menjaga yang lama tanpa mengambil yang baru, maka NU dapat kehilangan relevansi di hadapan perubahan sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Pembaruan yang Berakar
Pembaruan yang ditawarkan Gus Hery bukan pembaruan yang memutus tradisi. Ia mendorong NU mengkaji khazanah yang lebih luas dan progresif, termasuk fase-fase perdebatan intelektual dalam sejarah Islam. Ini menunjukkan bahwa tradisi Islam sendiri kaya dengan dialektika dan keberanian berpikir.
Dengan memahami keluasan tradisi, NU dapat lebih percaya diri menghadapi dunia baru. Pembaruan tidak perlu dicurigai sebagai ancaman, selama ia diarahkan untuk kemaslahatan dan tetap berpijak pada nilai-nilai dasar NU.
Kesiapan Gus Hery sebagai Pemimpin Pembaru
Dalam konteks calon Ketua Umum PBNU, gagasan ini memperlihatkan karakter kepemimpinan Gus Hery yang tidak anti-tradisi dan tidak anti-modernitas. Ia menawarkan keseimbangan: menjaga sanad, merawat khazanah, tetapi juga membuka ruang bagi ilmu baru dan inovasi.
Kepemimpinan seperti ini penting karena NU memasuki abad kedua dengan tantangan yang semakin kompleks. Warga NU membutuhkan pemimpin yang memahami kitab kuning, tradisi pesantren, perubahan sosial, dan arah dunia modern.
NU yang Tetap Berakar dan Tetap Bergerak
Jalan pembaruan ala Gus Hery dapat dirangkum dalam satu gagasan: NU harus tetap berakar dan tetap bergerak. Berakar tanpa bergerak akan membuat NU terjebak pada masa lalu. Bergerak tanpa akar akan membuat NU kehilangan identitas.
Dengan menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik, Gus Hery menawarkan jalan NU abad kedua yang lebih matang: tradisional dalam akar, progresif dalam gerak, dan maslahat dalam tujuan.

Leave a Reply