Dalam arikel gagasannya tentang NU abad kedua, Gus Hery Haryanto Azumi menyinggung perkembangan teknologi, termasuk artificial intelligence atau AI. Bagi Gus Hery, NU tidak boleh memandang dunia baru dengan jarak dan ketakutan. NU perlu memahami, memeluk, dan mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa gagasan Gus Hery tidak berhenti pada isu internal organisasi. Ia membaca bahwa masa depan umat akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ilmu pengetahuan, teknologi digital, perdagangan modern, eksplorasi sumber daya, dan transformasi cara manusia bekerja.
Daftar Isi
Mengapa Artificial Intelligence Penting untuk NU
Artificial Intelligence (AI) bukan lagi isu teknis yang hanya relevan bagi perusahaan teknologi. Artificial Intelligence (AI) mulai memengaruhi pendidikan, ekonomi, media, pekerjaan, layanan publik, bahkan cara masyarakat memperoleh informasi keagamaan. Karena itu, NU sebagai organisasi besar perlu memiliki sikap yang matang terhadap teknologi ini.
Gus Hery melihat bahwa NU harus beradaptasi dengan perubahan dan dunia baru. Adaptasi bukan berarti mengikuti teknologi tanpa kritik. Adaptasi berarti memahami cara kerja teknologi, melihat dampak sosialnya, dan memastikan nilai kemanusiaan tetap menjadi pusat.
Teknologi sebagai Ruang Kemaslahatan
Dalam tradisi NU, setiap perkembangan baru perlu dilihat dari sisi maslahat. Teknologi dapat membawa manfaat besar jika diarahkan dengan benar: memperluas akses pendidikan, mempercepat layanan sosial, meningkatkan literasi, dan menghubungkan jaringan pesantren serta kader NU di berbagai daerah.
Namun teknologi juga membawa risiko: disinformasi, ketimpangan akses, hilangnya pekerjaan tertentu, dan lemahnya etika digital. Karena itu, NU perlu hadir bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pemberi arah etis.
Kader NU dan Dunia Baru
Gus Hery menyebut bahwa banyak kader NU telah belajar sains, nuklir, metalurgi, komputer, algoritma, dan disiplin modern lainnya. Ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia NU sudah mulai memasuki bidang-bidang strategis masa depan.
Tugas kepemimpinan NU ke depan adalah menyambungkan potensi ini. Kader dengan latar belakang pesantren, ilmu sosial, teknologi, dan sains perlu dipertemukan dalam satu ekosistem agar kontribusinya terasa bagi organisasi, bangsa, dan peradaban.
Kesiapan Gus Hery dalam Agenda Teknologi
Sebagai calon Ketua Umum PBNU, Gus Hery dapat dibaca sebagai figur yang membawa sensitivitas terhadap masa depan teknologi. Ia memahami bahwa abad kedua NU tidak bisa dipisahkan dari perubahan digital dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Kesiapan ini penting karena NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menyiapkan kader untuk ruang-ruang baru. Jika NU ingin menjadi penentu arah masa depan, maka NU harus memahami bahasa zaman, termasuk teknologi dan Artificial Intelligence (AI).
NU yang Berakar dan Melek Teknologi
Gus Hery menawarkan visi NU yang berakar pada tradisi, tetapi melek terhadap dunia baru. Dalam konteks teknologi, ini berarti NU perlu membangun literasi digital, memperkuat etika teknologi, dan mendorong kader masuk ke bidang-bidang strategis.
Dengan demikian, artificial intelligence tidak hanya dipandang sebagai tantangan. Ia juga menjadi peluang bagi NU untuk memperluas manfaat, memperkuat pendidikan, dan menghadirkan etika sosial di tengah perubahan teknologi global.

Leave a Reply